"Learning to Explore, Develop and Serve"

Radikalisme Dalam Kampus Oleh: A. Rusdiana

RADIKALISME DALAM KAMPUS*)

Oleh: A. Rusdiana

Kampus sudah selayaknya menjadi tempat bagi para mahasiswa untuk menuntut ilmu dengan aman dan nyaman. Namun kenyataannya, tidak semua hal bisa berjalan dengan lancar. Terkadang ada hal-hal yang bisa mengganggu kehidupan di kampus. Salah satu hal tersebut adalah paham radikalisme. Paham radikalisme ini tak jarang menggiring mahasiswa untuk berbuat buruk, baik kepada teman, keluarga, masyarakat, dan negara. Ya, paham radikalisme ini cukup berbahaya jika tidak dicegah. Namun, bagaimana mahasiswa melihat paham radikalisme yang sering terjadi di dunia kampus dan apa saja penyebabnya? Lihat penjelasannya di bawah ini.

Paham Radikalisme di Dunia Kampus

Untuk dapat memahaminya, perlu dipahami tentang konsep radikalisme. Secara sederhana Agil Asshofie (Hidayati,2017) menyebutnya: “radikalisme adalah pemikiran atau sikap yang ditandai oleh empat hal yang sekaligus menjadi karakteristiknya”[1], yaitu: (1) sikap tidak toleran dan tidak mau menghargai pendapat atau keyakinan orang lain. (2), sikap fanatik, yaitu selalu merasa benar sendiri dan menganggap orang lain salah. (3), sikap eksklusif, yaitu membedakan diri dari kebiasaan orang kebanyakan. (4), sikap revolusioner, yaitu cenderung menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan”.

Apa sebenarnya paham radikalisme itu? Abudinata memandang radikal mengandung arti (1) (hilang) sampai ke akar-akarya sekali (dengan) sempurna, dan juga (2) (haluan politik yang) sangat keras menuntut perubahan undang-undang, ketatanegaraan, dan sebagainya” (Abudin, 2020).[2]

Jadi kesimpulannya, paham radikalisme adalah sebuah pemahaman yang dimiliki seseorang untuk mengubah undang-undang dan tata negara Indonesia. Dilihat dari pengertian di atas, paham radikalisme bisa mengganggu kehidupan bangsa dan negara. Sebut saja beragam aksi terorisme yang menuntut Indonesia untuk berubah hingga menyebabkan kekacauan dan kematian orang-orang tak bersalah.

Lantas mengapa sesorang jadi radikal? Beberapa faktor penyebab utama seseoang menjadi radikal sebagai berikut; (1) faktor pemahaman agama yang kurang tepat dalam hal ini. menyangkut isu pemurnian tauhid, taghyir al-munkar, relasi Muslim dan non-Muslim, pemaknaan doktrin jihad dan NKRI bukan negara Islam. (2) faktor politik. Faktor ini berhubungan dengan soal situasi politik global di mana sebagian umat Islam merasa berhak untuk menuntut balas atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan AS dan Eropa terhadap dunia Islam. Termasuk didalamnya adalah simpati dan solidaritas atas penderitaan yang dialami oleh dunia Islam (Palestina, Afghanistan, dan Irak)[3]

Kedua faktor di atas memberikan penjelasan bahwa radikalisme terjadi dimana saja bahkan di setiap negara mengalami beragam organisasi radikal. Oleh karena itu dakwah sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan situasi sosial masyarakat setempat. Dakwah dalam pandangan mahasiswa dapat dilakukan kapan saja dan dengan apa saja.

Pengamat terorisme dari Universitas Indonesia Ridlwan Habib mengatakan mahasiswa adalah pihak yang sangat rentan terpapar radikalisme atau paham radikal. Namun, paham tersebut juga berpotensi dapat menjangkiti semua kalangan. Hal tersebut terjadi, kata Ridlwan, karena rata-rata mahasiswa masih dalam taraf mencari paradigma baru dalam memahami agama, sementara kurikulum di perguruan tinggi khususnya negeri, kurang mencukupi untuk memenuhi keingintahuan mereka. “Misalnya masih sangat sangat basic dogmatic, misalnya soal iman. Tetapi hal-hal yang kekinian misalnya perlukah kita mendirikan khilafah, bagaimana sebenarnya sejarah khilafah secara historic, itu tidak dapat di perguruan tinggi negeri itu,” kata Ridlwan kepada VOA, Sabtu (28/5).

Oleh karena itu, lanjutnya, banyak mahasiswa yang mencari jawabannya di luar kampus atau kalaupun di dalam kampus biasanya melalui jalur informal, seperti alumni atau orang luar kampus buat kajian di dalam kampus. “Tetapi ini justru mengarah ke idiologi tertentu, dalam hal ini ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria -red), al-Qaeda dan lain sebagainya,”

Wallahu A’lam Bishowab

REFERENSI

[1] Husnul Hidayati “Pandangan Mahasiswa Terhadap Radikalisme (Studi Penelitian Deskriptif Di UIN Mataram)” Jurnal Penelitian Keislaman, 13: 2, (Desember 2017), 156

[2] Abuddin Nata Pendidikan Islam di Era Milenial (Jakarta : Prenadamedia Group, 2020), 789

[3]Abu Rokhmad, Pandangan Kiai Tentang Farhan Deradikalisasi Paham Islam Radikal Di Kota
Semarang, Jurnal “Analisa” 21:1 (Juni 2014), 29-30.

____________________

*) Tulisan ini didedikasikan untuk mendukung penyusunan Tesis Intelejen (bahan wawancara tanggal 10 Maret 2023). Bila memungkinkan bisa dipublis di Media Onlie Mo.ekpos.com atau bedanews.com

Penulis:

Ahmad Rusdiana, Pegiat Rumah Baca Tresna Bhakti, Pengampu mata kuliah manajemen Kewirausahaan pendidikan; Penulis buku: Kewirausahaan Teori dan Praktek; Manajemen. Manajemen Kewirausahaan Pendidikan; Guru Besar Manajemen Pendidikan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pendidik, Peneliti, dan Pengabdi; Pendiri dan Pembina Yayasan Sosial Dana Pendidikan Al Misbah Cipadung Bandung yang mengembangkan pendidikan Diniah, RA, MI, dan MTs, sejak tahun 1984, serta garapan khusus Bina Desa, melalui Yayasan Pengembangan Swadaya Masyarakat Tresna Bhakti, yang didirikannya sejak tahun 1994 dan sekaligus sebagai Pendiri Yayasan, kegiatannya pembinaan dan pengembangan asrama mahasiswa pada setiap tahunnya tidak kurang dari 70 mahasiswa di Asrama Tresna Bhakti Cibiru Bandung. Membina dan mengembangkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) TK TPA Paket A B C. Pegiat Rumah Baca Tresna Bhakti sejak tahun 2007 di Desa Cinyasag Kecamatan. Panawangan Kabupaten. Ciamis Jawa Barat. Karya Lengkap sd. Tahun 2022 dapat di akses melalui: (1) http://digilib.uinsgd.ac.id/view/creators. (2) https://www.google.com/search? q=buku+a. rusdiana+shopee&source (3) https://play. google.com/store/books/author?id.